Minggu, 04 Maret 2012 - 15:04:51 WIB
Pemeliharaan Jalan Negara di Sumsel Beraroma Korupsi Kategori: Hukum & Kriminal - Dibaca: 201 kali

PAGARALAM, selaluonline.com- Proyek pemeliharaan jalan negara sepanjang 103 kilometer, antara daerah Lahat sampai Kota Pagaralam, dan perbatasan Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, Sumatera, senilai Rp2,6 miliar, diduga kuat telah terjadi penyimpangan alias korupsi.  

Untuk itu, Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli, mendesak agar Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, segera mengusut dugaan penyimpangan tersebut. LSM Peduli, menilai hasil pengerjaan jalan itu, berupa pemotongan rumput tidak merata.

Demikian juga dengan pembersihan saluran air, bahu jalan, tambal sulam, termasuk penimbunan lubang dan adanya tumpang tindih dengan pekerjaan yang dilakukan Pemerintah Kota Pagaralam, khususnya mulai dari Dusun Mingkik ,Kecamatan Dempo Selatan hingga batas Dusun Kerinjing, Kecamatan Dempo Utara.

"Berdasarkan pantauan kami, diduga ada indikasi kuat proyek pemeliharaan jalan negara antara Pagaralam-Tanjungsakti sepanjang 39 kilometer dan Pagaralam-Lahat sepanjang 64 kilometer mulai dari Lahat hingga perbatasan Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, terjadi penyimpangan atau bahkan fiktif," kata Ketua LSM Peduli, Zainal.

Padahal nilai anggaran proyek itu, menurut Zainal, cukup besar mencapai Rp2,6 miliar melalui APBN 2011. Karena itu, kata dia, pihaknya mendesak agar Kejaksaan Tinggi Sumsel segera melakukan pengusutan.

Zainal menyatakan, kalau dilihat dari hasil pengerjaan cukup banyak tidak sesuai dan menyalahi spesifikasi pemeliharaan rutin jalan negara sepanjang 103 kilometer tersebut, seperti pemotongan rumput seharusnya dilakukan tiga hingga empat setiap tahunnya, namun yang dilakukan hanya satu kali.

"Yang jelas tidak dilakukan cuci siring atau pembersihan saluran air sepanjang jalan negara tersebut. Buktinya sebagian besar jalan itu digenangi air karena saluran air tersumbat oleh rumput, dan kalaupun ada pembersihan hanya beberapa titik saja, seperti kawasan Indikat, Lematang, Kerinjing," ujar dia pula.

Itu pun, kata Zainal, pekerjaan tumpang tindih dengan pemeliharaan yang dilakukan Pemerintah Kota Pagaralam, mulai dari Dusun Mingkik, Kecamatan Dempo Selatan hingga Dusun Kerinjing, Kecamatan Dempo Utara, sepanjang 42 kilometer.

Artinya, ujar dia, pekerjaan tebas bayang dilakukan Pemkot Pagaralam, tapi pihak Balai Besar Kementerian Pekerjaan Umum juga melakukan penagihan. Jika dinilai dari segi pekerjaan, kemungkinan hanya menghabiskan dana sekitar Rp500 juta hingga Rp600 juta, sementara dana proyek ini mencapai miliaran rupiah, kata dia.

"Kami pernah melihat pemeliharaan saat jelang Idul Fitri 1432 Hijriah lalu, pengaspalan hanya sedikit di daerah Lematang dan beberapa titik sekitar Pagaralam. Sementara sisanya tidak dilakukan, dan masih banyak terdapat lubang-lubang yang cukup membahayakan bagi pengguna jalan, seperti di Dusun Bumiagung, Kerinjing, Tanjungpayang, dan masih ada beberapa titik lainnya termasuk wilayah Lahat," ujar dia.

Belum lagi soal upah petugas pembersih yang hanya dibayar Rp200.000 hingga Rp300.000 per kilometer. "Hasil investigasi ini bukan hanya pengamatan langsung saja, termasuk informasi dari pekerja di lapangan, dan warga sepanjang jalan negara tersebut," kata dia.

Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional III, Ditjen Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum Bastian Sihombing mengatakan, memang pengerjaan pemeliharaan jalan negara ada spesifikasinya, seperti rumput dipotong tiga sampai empat kali kali setahun, lubang ditutup aspal panas, saluran dibersihkan, dan bahu ditimbun kerikil jika jalan rusak.

"Kita minta ke depan masyarakat ikut serta memonitor pelaksanaan program pemeliharana jalan itu," ujar dia. (gir/ant)  





Berita Terkait:


0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Copyright © 2011 by selaluonline.com. All Rights Reserved.