Senin, 20 Februari 2012 - 15:06:10 WIB
Mengintip Kepercayaan Parmalim di Tanah Batak Kategori: Gaya Hidup - Dibaca: 455 kali

JAKARTA, selaluonline.com - Parmalim (Ugamo Malim) memang tidak tercatat sebagai agama di Indonesia dan hanya diakui sebagai aliran kepercayaan di bawah naungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Namun hingga kini, kepercayaan yang dianut Sisingamaraja ini tetap terjaga di Tanah Batak, tepatnya di Desa Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Bahkan, penganutnya sudah menyebar ke seluruh Indonesia dan mencapai lebih dari 1.500 orang.

R.M Naipospos, itulah pemimpin kepercayaan Parmalim saat ini. R.M Naipospos merupakan keturunan Raja Mulia Naipospos, salah satu murid Sisingamangaraja ke-12 yang diberi mandat meneruskan kepercayaan tersebut kepada keturunannya sebelum Sisingamangaraja ke-12 meninggal dunia.

Bagi kepercayaan ini, pimpinan disebut Ihutan Bolon. Sementara penganutnya disebut ras, dan orang yang mewakili penganut dari setiap daerah (cabang) disebut Ulupunguan.

Awalnya, kepercayaan ini berkembang di Desa Bakara, tempat kerajaan Sisingamangaraja berdiri. Namun, sekarang berpindah ke Desa Huta Tinggi. Masyarakat di Desa Bakara sendiri kini sudah jarang yang menganut agama Parmalim dan lebih memilih agama Kristen atau Islam.

"Kalau negara mengakui kita sebagai agama, terima kasih. Kalau negara tidak mengakui kita sebagai agama dan hanya mengakui Parmalim sebagai penghayatan kepercayaan, terima kasih," kata RM Naipospos, di Desa Huta Tinggi, Senin (20/2/2012).

Pria 60 tahunan ini mengatakan, kepercayaan Parmalim tidak perlu mendapat pengakuan dari pemeritah maupun masyarakat. "Parmalim tidak pernah mengajarkan untuk memaksa seseorang mempercayai agama atau kepercayaan yang kita anut. Parmalim juga tidak pernah mengajarkan untuk meminta pengakuan dari orang lain. Kita punya Tuhan, biarlah Tuhan yang menilai perbuatan kita," tambahnya.

Parmalim memang kepercayaan yang cukup unik. Rata-rata penganutnya asli keturunan Batak, namun kepercayaan ini mengharamkan penganutnya memakan babi, anjing, maupun darah. Menyantap makanan dari rumah keluarga yang tengah berduka (meninggal dunia) juga diharamkan. Kepercayaan ini juga mengharuskan penganutnya menyanyi seisi alam, yakni sesama manusia, hewan, dan tumbuhan.

Bagi salah seorang penganutnya, Togi Marudut Sirait (37), Parmalim adalah agama yang dianutnya. Dirinya mengaku, saat bersekolah sempat mendapat kendala karena agama yang dianutnya tidak terdaftar dalam mata pelajaran. Hingga akhirnya, ia disarankan untuk mengikuti mata pelajaran agama Kristen.

"Saya ikuti saran sekolah saya. Namun saat saya diperintahkan untuk melaksanakan ibadah Kristen, saya menolak karena saya bukan Kristen. Saya lahir di Parmalim, orangtua saya Parmalim, istri saya Parmalim, begitu juga anak-anak saya," katanya di lokasi yang sama.

Rumah ibadah Parmalin adalah Bale Pasogit. Di atas bubungan Bale Pasogit terdapat replika tiga ekor ayam, masing-masing berwana merah, hitam, dan putih. Merah melambangkan keberanian, hitam adalah tahta kerajaan, dan putih adalah tanda kesucian. Konon katanya, ayam adalah binatang yang kerap dibawa Sisingamangaraja saat akan berperang melawan kolonial Belanda.

Tiap tahunnya, agama ini melaksanakan ritual keagamaan Pamaleaon Bolon Sipaha Lima. Biasanya, dalam ritual ini, seluruh penganut kepercayaan Parmalim dari penjuru Indonesia bahkan luar negeri akan berkumpul di Desa Huta Tinggi untuk memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan Debata Mulajadi Na bolon atau Sang Pencipta, atas berkah yang diberikan selama setahun.(cok/okz)




Berita Terkait:


0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Copyright © 2011 by selaluonline.com. All Rights Reserved.