Rabu, 21 Agustus 2013 - 03:32:00 WIB
Kasus Pemalsuan Sertifikat Tanah Kembali Digelar di PN Jakut Kategori: Hukum & Kriminal - Dibaca: 216 kali

JAKARTA, selaluonline.com- Kasus pemalsuan pembuatan sertifikat tanah di daerah Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara, dengan terdakwa salah satu anggota Komisi Penyelamat Aset Negara bernama I Gede Budiasa, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Selasa (20/8/2013).   

Oleh jaksa penuntut umum (JPU) Malini SH dari Kejari Jakarta Utara, terdakwa selaku  pengurus sertifikat tanah seluas 11.700 meter persegi milik H Madina dijerat Pasal 266 KUHP tentang pemalsuan dan Pasal 55 KHUP karena ikut serta melakukan pemalsuan dokumen.   

“Ini ada rekayasa hukum, saya hanya membantu karena kemitraan dan hanya sebatas mengkoordinasi sampai di sengketa dan bukan untuk penerbitan,” tegas I Gede Budiasa kepada majelis hakim  

Kasus yang menyeret I Gede Budiasa dan H. Madina ke meja hijau, diawali adanya seorang oknum perwira menengah yang mengakui tanah tersebut adalah miliknya dan memiliki dokumen yang sah.

Menurut H. Madina, dalam proses persidangan untuk membuktikan kebenarannya, oknum perwira menengah itu di minta untuk menunjukan kelengkapan dokumen surat tanah yang dimaksudkan. Ketika dilakukan pengecekan dalam persidangan ternyata kesaksian dan bukti yang diajukan palsu.

"Girik yang dibawa sebagai barang bukti itu palsu, terlihat dari tanda tangan dan jenis kertas yang digunakan," ungkap H. Madina yang sebelumnya sempat terkena Pasal 376 dalam kasus yang sama, namun tidak terbukti bersalah dalam persidangan sehingga dia dianggap bebas.

Kasus ini sudah berjalan sejak 22 juni 2011, kata H. Madina, dan kembali di angkat dalam persidangan pada bulan lalu. Dengan didukung bukti kuat yang sudah ada, sayangnya hingga sekarang belum menemui titik terang penyelesaian bahkan terlihat semakin berlarut-larut.

Sementara itu, JPU Malini SH, menerangkan bahwa terdakwa dilaporkan adalah salah satu anggota perwira tinggi kepolisian, yang bertugas di Sekertariat Negara dengan inisial S.

“Dalam kasus ini, S diduga telah memberikan keterangan  palsu dengan menyatakan giriknya hilang dicuri, padahal girik itu menurut pengakuan yang melaporkan ada. Dan ketika di periksa, dokumen surat girik tersebut juga palsu," ujar Malini (vike)





Berita Terkait:


0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Copyright © 2011 by selaluonline.com. All Rights Reserved.