Sabtu, 01 Juni 2013 - 06:37:59 WIB
Palsukan Surat, Kepala Desa Terpilih Dijebloskan ke Tahanan Kategori: Hukum & Kriminal - Dibaca: 150 kali

BOJONEGORO, selaluonline.com- Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro, Jawa Timur, akhirnya menahan Kepala Desa (Kades) terpilih Desa Wotan Ngare, Kecamatan Kalitidu bernama Mukti Ali (34), Jumat (31/5/2013) siang. Tindak penahanan itu dilakukan seiring pelimpahan perkara dugaan kasus pemalsuan surat dari Kepolisian ke penyidik Kejari.

Warga Desa Dukoh Kidul, Kecamatan Ngasem adalah Kades terpilih. Namun, Bupati Bojonegoro, Suyoto belum melantik yang bersangkutan dan kedahuluan kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan. Mukti terseret kasus pemalsuan surat yang mengakibatkan korbannya rugi hingga Rp98 juta.

Kasie Pidana Umum Kejari Bojonegoro, Rahmad Wahyu Wijayanto menyatakan, tersangka merupakan Kepala Desa terpilih di Desa Wotan Ngare, Kecamatan Kalitidu. Namun, hingga saat ini belum dilantik oleh Bupati Bojonegoro.

“Ya, Dia (Mukti) ditahan karena kasus pemalsuan yang terjadi pada oktober 2011 lalu," tegasnya, kepada sejumlah wartawan, Jumat (31/05/2013) siang.

Menurutnya, penahanan tersangka karena saat ini sudah masuki pelimpahan tahap dua. Penahanan ini, lanjutnya, juga menindaklanjuti proses sama yang dilakukan pihak kepolisian tiga hari sebelum. Kasus dugaan pemalsuan itu, terjadi saat tersangka  masih bekerja di salah satu lembaga pedbiayaan di Bojonegoro.

Dengan mengetahui pencairan dana pinjaman di perusahaan tempat ia bekerja

tersangka memanipulasi data dan seolah membuat data nasabah pengajuan kredit, padahal uang tersebut digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri.

"Parahnya tersangka membuat data data palsu tersebut dengan nama orang yang sudah meninggal empat bulan sebelum pengajuan kredit," tambahnya.

Saat bekerja itu sebagai karyawan credit marketing officer (CMO) dengan mudah membuat Laporan laporan berupa pengisian formulir hasil survei perjanjian pembiayaan serta surat perintah transfer palsu atas nama almarhum Hasbullah dengan merekayasa jumlah gaji serta tanda tangan palsu. Akibat perbuatannya, korban mengalami kerugian hingga Rp98 juta.

Tersangka juga terancam dijerat dengan pasal 263 ayat 1 dan 2 KUHP dan atau Pasal 266 KUHP. (bani/mic)





Berita Terkait:


0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Copyright © 2011 by selaluonline.com. All Rights Reserved.